Beranda » Uncategorized » Tim Bencana Katastropik Purba menyebut Gunung Padang dari 10.000 SM, dari carbon dating.

Tim Bencana Katastropik Purba menyebut Gunung Padang dari 10.000 SM, dari carbon dating.


Tim Bencana Katastropik Purba yang melakukan pengeboran di situs megalitikum Gunung Padang, mengungkap hasil penanggalan keberadaan situs berundak Gunung Padang. Berdasarkan carbon dating yang dilakukan, tim menyebut punden berundak ini sudah ada sejak 10.000 Sebelum Masehi.

Hasil ini terbilang mengejutkan. Sebab, dengan penanggalan ini punden berundak di Gunung Padang berpotensi menjadi bangunan tertua di dunia. Sebagai perbandingan, piramid-piramid tua di Mesir diduga berasal dari 2.500 hingga 3.000 SM. Atau bandingkan dengan Stonehenge yang diperkirakan berasal dari 3.500 hingga 5.000 SM.

Arkeolog Ali Akbar kemudian mengatakan, jika hasil carbon dating ini akurat, maka Gunung Padang akan menjadi peninggalan penting dunia.

“Jika itu memang akurat, kita harus siap-siap mengatakan konstelasi peradaban dunia berubah. Bahwa Indonesia memiliki peradaban tua dibandingkan dengan yang lain. Namun dengan catatan, jika itu memang akurat,” kata Ali Akbar, saat dihubungi VIVAnews, 6 Maret 2012.

Menurut Ali Akbar, hasil carbon dating dan pengeboran memang perlu dilihat lagi. Arkeolog harus mengetahui berapa kedalaman pengeboran. Selain itu, harus dilihat pula konteks sampel carbon dating dengan konteks budayanya, dalam hal ini dengan batu-batu yang digunakan sebagai bahan bangunan.

“Apakah tanahnya merupakan lapisan budaya atau tidak. Yang menjadi pertanyaan kan kita mencari usia bangunan. Untuk mengetahui itu, di bawah bangunan tersebut ada tanah lagi tidak,” ucap Abe, sapaan Ali Akbar.

“Untuk itu Tim Katastropik Purba harus memastikan di kedalaman pengeboran tersebut harus ada struktur bangunannya. Jika tidak, itu bisa dikatakan tanah alami yang sudah ada sebelumnya,” lanjut Abe.

Kemudian, Ali pun mempertanyakan laboratorium yang melakukan carbon dating tersebut. “Setahu saya, laborarorium uji karbon di Indonesia belum diakui secara internasional karena belum akurat. Makanya selama ini, dalam penelitian arkeologi, karbon dibawa ke luar negeri untuk pengujian,” ucapnya.


1 Komentar

  1. Lydia mengatakan:

    Usually I do not learn post on blogs, but I wish to say that this write-up very forced me to take a look at and do it! Your writing taste has been amazed me. Thanks, very nice post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 490 pengikut lainnya

Yg lagi lihat

Klik tertinggi

  • Tak ada

Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Des   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d blogger menyukai ini: