Beranda » 2012 » Juni

Monthly Archives: Juni 2012

Eks Astronot: NASA, Jangan Remehkan 2011 AG5

Dua puluh delapan
tahun lagi, tepatnya pada 5
Februari 2040, sebuah asteroid
sepanjang 460 kaki atau 140
meter akan melintas dekat Bumi.
Asteroid 2011 AG5 itu bisa jadi
ancaman bagi umat manusia,
meski para ilmuwan mengatakan
belum tentu, perbandingannya
masih jauh 1:625. Dan, masih ada
banyak waktu.
Jawaban para ilmuwan tak
memuaskan bagi sebagian
orang, termasuk seorang
astronot misi Apollo, Russell
Schweickart, yang belakangan
mendedikasikan diri dalam
pengamatan batu angkasa yang
berpotensi berbahaya bagi bumi.
Ia menuntut Badan Antariksa
Amerika Serikat (NASA)
mempelajari lebih detail soal
Asteroid 2011 AG5. Dalam surat
terbuka yang ditujukan pada
administrator NASA, Charles
Bolden, Schweickart menyoroti
apa yang ia anggap sebagai
ancaman yang bisa ditimbulkan
batu angkasa itu, saat ia masuk
ke ‘lubang kunci’ pada 2023 dan
membuatnya mungkin akan
bertabrakan dengan bumi pada
2040.
‘Lubang kunci” (keyhole) adalah
sebuah wilayah kecil di ruang
angkasa dekat bumi, di mana
objek dekat bumi yang melintas
bisa terganggu, oleh gaya
gravitasi, yang menempatkannya
pada lintasan yang bisa
menubruk bumi.
Schweickart mempertanyakan
pandangan Bolden, dalam
korespondensi sebelumnya,
bahwa satelit mirip Deep Impact
bisa diluncurkan dalam waktu
yang cukup untuk menghalau
batu itu menghantam permukaan
bumi.
Sebelumnya, satelit Deep Impact
pernah ditabrakkan ke Komet
Tempel 1 pada 4 Juli 2005.
Meski misi Deep Impact kala itu
berhasil, Schweickart
berpendapat, analogi yang sama
tak bisa digunakan untuk
Asteroid 2011 AG5. Ia
berpendapat, untuk asteroid
tersebut, butuh dua misi, tak
hanya satu. Dengan kata lain,
mencegat dampak Asteroid 2011
AG5 tantangannya lebih
menakutkan ketimbang komet
Tempel 1.
“Baik Anda maupun saya, tak
mau mempertaruhkan hidup
tanpa persiapan yang solid.
Dalam hal ini, ada potensi nyawa
dipertaruhkan. Dan saya sangat
tahu, Anda punya tanggung
jawab serius, seperti halnya
saya,” kata Schweickart dalam
surat terbuka kepada Bolden,
seperti dimuat SPACE.com, Selasa,
13 Maret 2012.
“Jelasnya, saya meminta
dilakukan hal teknis khusus dan
misi analisis untuk memastikan,
kita benar-benar memahami soal
perhitungan waktu,” tambah dia.
Dia menambahkan, kemungkinan
2011 AG5 menabrak bumi
memang kecil. “Namun, kita
harus bersiap menghadapi
kemungkinan terburuk dengan
cara melakukan persiapan.”
Menanggapi surat tersebut,
pejabat NASA, Lindley Johnson
mengatakan apa yang diungkap
Schweickart sejatinya menjadi
pertimbangan NASA dalam
melihat 2011 AG5.
Johnson mengatakan, pihaknya
memerlukan data yang lebih
akurat soal kepastian orbit 2011
AG5. Jika sudah didapat, baru
misi analisis akan dilakukan.
“Kami yakin, memiliki waktu lebih
dari cukup waktu untuk
melakukan misi analisis dan
melakukan respon yang
dibutuhkan.”
Kekhawatiran Schweickart
diamini Clark Chapman, spesialis
asteroid dan ilmuwan planet dari
Southwest Research Institute di
Boulder, Colorado.
Sebelumnya diinformasikan,
antara tahun 2013 dan 2016,
para astronom baru bisa
memonitor 2011 AG5 dari tanah,
yang jadi modal untuk membuat
penilaian yang lebih rinci.
Namun menurut Chapman, itu tak
benar. Kita bisa melihat
pergerakannya pada Agustus
tahun ini. Yang diperlukan adalah
sebuah teleskop berbasis tanah
yang besar, atau menggunakan
Teleskop Hubble.
Makin banyak informasi tentang
2011 AG5 diperlukan. “Kita tak
tahu seberapa besar asteroid
itu,” kata dia. Makin besar
ukurannya, makin berat untuk
menjauhkannya dari bumi.
Bagaimana dengan prediksi
peluang asteroid itu menabrak
bumi menjadi nol? “Pendapat
saya, Anda tak bisa mengatakan,
‘ayo tunggu saja,
kemungkinannya menjadi nol’.
Ya, ada kemungkinan peluang
jadi nol, tapi saya kira tidak….,”
tambah dia.

Sumber : vivanews.com

Sabun Anti Bakteri Belum Tentu Bunuh Bakteri

Sejak kecil kita selalu
diajarkan untuk membiasakan
mencuci tangan sebelum makan.
Para ibu di rumah, biasanya
menyediakan sabun anti bakteri
yang berguna untuk membunuh
kuman dan mencegah datangnya
penyakit.
Namun dalam sebuah penelitian
baru menunjukkan bahwa sabun
antibakteri tidak lebih efektif dari
sabun biasa dalam upaya
pencegahan penyakit.
Sabun antibakteri adalah sebagai
sanitasi atau pembersih yang
telah ditambahkan bahan kimia
yang berguna untuk membunuh
bakteri dan mikroba.
Harga sabun antibakteri ini
memang cenderung lebih mahal
jika dibandingkan dengan sabun
biasa. Akan tetapi, sudah dari
beberapa dekade lalu, sabun anti
bakteri telah banyak digunakan
di rumah sakit dan klinik
kesehatan.
Seperti dikutip dari sheknows,
laporan berseberangan datang
dari Food and Drug
Administration (FDA) Amerika
Serikat. Laporan itu menyebutkan
bahwa dari semua penelitian
medis yang mereka lakukan dan
analisis, tidak ada satu pun yang
menunjukkan bahwa hubungan
antara penggunaan produk anti
bakteri dengan penurunan
tingkat infeksi.
Sebagian besar sabun antibakteri
mengandung bahan kimia yang
disebut triclosan, yang sering
dikatakan tidak berbahaya.
Triclosan tidak dapat membunuh
semua jenis bakteri, termasuk
bakteri baik.
Tubuh kita membutuhkan
beberapa bakteri. Itulah
sebabnya makanan yang
mengandung bakteri baik seperti
yogurt dan probiotik, dapat
membantu kita untuk tetap sehat.
Ketika bakteri baik telah mampu
menyapu bersih bakteri jahat
dalam tubuh, masih ada
beberapa bibit bakteri yang
tersisa dan berada dalam
lingkungan yang tidak ramah
tanpa ada persaingan dari
bakteri lainnya. Sesekali bakteri
yang tersisa masih hidup dan
bermutasi, kebanyakan bakteri
tersebut tahan pada produk anti
bakteri dan antibiotik.
Terlalu sering menggunakan
triclosan dapat menyebabkan
gangguan hormon tiroid. Hal ini
dikarenakan pada saat triclosan
bercampur dengan klorin pada
air keran, zat ini dapat berubah
menjadi beberapa zat-zat
beracun yang dapat
menimbulkan beberapa penyakit,
seperti kanker.
Bahayanya lagi, sisa triclosan
yang berakhir di limbah lumpur
sulit terurai hingga berbulan-
bulan bahkan hingga tahunan.
Badan Perlindungan Lingkungan
mengakui dampak negatif yang
besar dari triklosan yang
berpengaruh pada kesehatan
dan lingkungan. Oleh karena itu,
saat ini mereka sedang meninjau
petisi untuk melarang hal
tersebut (trikolsan) untuk
dipergunakan oleh para
konsumen.
Sementara itu, beberapa orang
masih menggunakan cara lama,
yaitu mencuci piring tanpa
menggunakan sabun anti bakteri.

Sumber : vivanews.com

5 Cara Pemakaman Yang Unik

Kematian adalah satu
tahapan misterius yang semua
manusia pasti hadapi. Dalam
menyikapi kematian ini, sejumlah
peradaban di dunia memiliki
caranya sendiri, termasuk
memperlakukan jasad yang
sudah tak bernyawa.
Umumnya saat ini, manusia
memakamkan kerabat mereka di
dalam tanah, seperti ajaran
beberapa agama besar yang
berkembang di dunia.Tapi, ada
juga cara yang dinilai aneh.
Laman Livescience membuat 10
daftar prosesi kematian yang
aneh tersebut. Berikut lima
diantaranya:
5. Bog Bodies
Di abad pertengahan, penduduk
di sekitar rawa Eropa Utara
sengaja menyimpan kerabat
mereka yang meninggal di rawa
tersebut. Rupanya, rawa ini
memiliki kandungan yang
membuat jasad manusia awet.
4. Pemakaman ala kaum Tibet
Alih-alih memakamkan mayat di
tanah keras bebatuan, beberapa
orang Tibet mengirim jasad
orang-orang terkasih ke puncak
gunung. Jasad itu ditaruh di sana
supaya dimakan burung nasar.
Bahkan, ada beberapa jasad yang
sengaja dibongkar dan dicampur
tepung dan susu agar (mungkin)
terasa lebih enak bagi burung
sehingga tak ada jasad tersisa.
3. Pemakaman kapal kaum Viking
Di abad pertengahan, kaum
pelaut asal Skandinavia, Viking,
hidup dan mati di laut. Tapi, ada
prosesi khusus bagi Viking kaya
ketika mati. Mereka ditempatkan
di sebuah kapal yang penuh
dengan makanan, perhiasan,
senjata, bahkan kadang lengkap
dengan pelayan dan binatang
kesayangan. Semua fasilitas ini
ditaruh di kapal dengan harapan
Viking itu nyaman di kehidupan
setelah kematian. Perahu-perahu
itu kemudian dikubur di tanah,
dibakar, atau diarungkan ke laut.
Tujuan kehidupan setelah mati
prajurit Viking adalah Valhalla
atau ‘Odin’s Hall.’
2.Pemakaman pohon
Banyak suku-suku asli di dunia
yang beranggapan bahwa cara
terbaik ‘membuang’ orang mati
adalah dengan menempatkan
mereka setinggi mungkin,
ketimbang menaruhnya di
bawah. Sejumlah suku di
Australia, British Columbia,
Amerika dan Barat Daya Siberia
diketahui mempraktikkan
pemakaman di atas pohon.
Mereka membungkus jasad
dengan kain kafan atau pakaian
lalu menaruhnya di lekukan
pohon agar membusuk secara
alami.
1. Menara Kesunyian
Penganut Zoroastrianisme
percaya bahwa tubuh manusia
tidak murni sehingga tidak boleh
mencemari bumi setelah mati
melalui cara kremasi atau
pemakaman. Sebaliknya, orang
mati harus dibawa ke seremonial
‘tower of silence’ atau menara
kesunyian, yang biasanya terletak
di pada sebuah dataran tinggi
dan gunung tinggi. Jasad
kemudian dibiarkan terbuka
untuk dimangsa binatang.
Tulang-tulang sisa yang kering
terkena matahari kemudian
dikumpulkan dan dilarutkan
dalam kapur.

Sumber : vivanews.com

Apakah Dinosaurus Memiliki Andil Dalam Kepunahan Mereka?

Walaupun tidak sepenuhnya salah dinosaurus, makhluk raksasa ini punya andil dalam perubahan iklim. Menurut ilmuwan, makhluk raksasa purba ini menghasilkan banyak sekali gas dalam perutnya.

Herbivora raksasa sauropods menjadi penjahat utama karena jumlah besar tanaman hijau yang telah dikonsumsinya.

Profesor Universitas St Andrews, Skotlandia, Graeme Ruxton mengatakan hewan raksasa ini selama 150 tahun berkontribusi menghasilkan gas pemanasan global, metana.

Tim menghitung secara kolektif binatang purba ini memproduksi lebih dari 520m ton metana per tahun, lebih dari yang dihasilkan sumber metana pada era modern.

Ilmuwan memperkirakan jumlah yang sangat besar ini dengan mudah dapat menghangatkan bumi. Bahkan, perubahan iklim sangat dahsyat yang terjadi menjadi senjata makan tuan bagi dinosaurus. Mereka punah karena gas yang dihasilkan sendiri.

Salah satu hewan, argentinosaurus seberat 90 ton mengonsumsi sekitar setengah ton makanan dalam sehari.

Setelah makanan dicerna, perut binatang ini akan menghasilkan ribuan liter gas rumah kaca. Jumlah yang sangat besar apabila dibandingkan dengan sapi masa kini yang hanya memproduksi 200 liter gas metana setiap hari.

Metana 20 kali lebih efektif dalam memerangkap panas di atmosfer daripada karbon dioksida (CO2). Gas ini dibuat dari berbagai sumber alami dan hasil kegiatan manusia. Tempat pembuangan sampah, gas alam, sumber minyak bumi, dan kegiatan pertanian dapat menjadi penghasil gas metana.

Para ilmuwan menyebutkan manusia telah mendorong peningkatan gas naik 2,5 kali lebih tinggi dari kadar yang seharusnya. Kenaikan ini bertanggung jawab pada 20 persen pemanasan global modern.

Sapi dan ternak lainnya saat ini menghasilkan 100m ton metana dalam setahun. Menurut Profesor Ruxton dan rekan penelitinya, David Wilkinson dari Universitas John Moores Liverpool, Inggris, ini hanya seperlima dari yang dihasilkan dinosaurus.

“Bahkan, kalkulasi kami menemukan dinosaurus menghasilkan lebih banyak metana dibanding sumber modern. Baik dari gabungan sumber alami dan manusia,” ujar Wilkinson seperti dikutip dari laman Dailymail.co.uk.

Temuan terbaru Penyebab Punahnya Dinosaurus

Sebagian besar orang percaya dinosaurus terhapus dari bumi karena bencana dahsyat sekitar 65 juta tahun lalu, seperti zaman es, aktivitas gunung berapi, dan hantaman asteroid.

Tim peneliti menemukan dinosaurus punah secara bertahap. Penurunan jumlah mereka menurun secara pasti.

Studi yang dipimpin Museum Sejarah Alam Nasional Amerika memberikan jawaban berbeda untuk menjelaskan kejatuhan dinosaurus. Para ilmuwan ini berpendapat makhluk herbivora raksasa, seperti brachiosaurus mati secara perlahan selama 12 juta tahun terakhir pada periode Kapur. Periode ini berlangsung pada akhir periode Jura hingga awal Paleosen. Periode ini paling lama, mencakup hampir setengah era Mosozoikum.

Penemuan ini dipublikasikan pada 1 Mei 2012 dalam jurnal Nature Communications. Hasil riset menggagalkan gagasan dinosaurus hidup sehat dan bahagia sebelum diserang asteroid.

“Apakah gunung meletus atau hantaman asteroid terjadi saat kondisi dinosaurus masih prima? Kami menemukan persoalan ini lebih kompleks dari itu. Mungkin tidak disebabkan oleh bencana tiba-tiba yang biasa digambarkan,” ujar penulis utama penelitian, Steve Brusatte yang juga alumnus pascasarjana Universitas Columbia, Amerika Serikat seperti dikutip dari laman Dailymail.co.uk.

Menurut Brusatte, herbivora purba ini sudah terancam punah sebelum hantaman terjadi. Tapi, dinosaurus dan herbivora berukuran sedang tidak bermasalah. Dalam berbagai kasus, lokasi keberadaan dinosaurus menentukan kepunahan.

Penemuan ini didapat berdasarkan “morfologi disparitas” atau keragaman tipe struktur tubuh dinosaurus. Sementara riset sebelumnya berbasis waktu perubahan jumlah dinosaurus.

Ilmuwan Universitas Ludwig Maximilian, Munich, Jerman, Richard Butler menjelaskan studi membandingkan tipe tubuh dinosaurus dapat memberikan penjelasan lebih baik.

Dinosaurus memiliki perbedaan besar satu sama lain. Ada ratusan spesies hidup pada akhir periode Kapur. Perbedaan besar dinosaurus terletak pada pola makan, bentuk, dan ukuran. Setiap kelompok berkembang dengan cara yang berbeda pula.

Riset menemukan dinosaurus herbivora, hadrosaurus dan ceratopsids, telah mengalami penurunan keragaman hayati sejak 12 juta tahun sebelum akhirnya musnah.

Menurut Maximilian, periode akhir Kapur bukan dunia statis yang diganggu hantaman asteroid.

“Beberapa dinosaurus mengalami perubahan dramatis selama beberapa waktu. Herbivora besar diperkirakan telah menghadapi penurunan jumlah dalam jangka panjang,” imbuhnya.